Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8

Page 1 of 8
next >

Jurnal Ilmiah Komputer dan Informatika (KOMPUTA)

27

Vol. 3, No. 1, Maret 2014, ISSN : 2089-9033

PEMBANGUNAN SISTEM PENDETEKSI PENYALAHGUNAAN

NARKOBA MENGGUNAKAN ALGORITMA JARINGAN SYARAF

TIRUAN METODE BACKPROPAGATION

Dwi Putri Pangrestu

1

, Nelly Indriani Widiastuti

2

Teknik Informatika – Universitas Komputer Indonesia

Jl. Dipatiukur 112-116 Bandung

E-mail :dwiputri.pangrestu@gmail.com

1

, alifahth@yahoo.com

2

ABSTRAK

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat

hingga tahun 2013 jumlah penyalahguna narkoba di

Indonesia

mencapai

empat

juta

jiwa.

Penyalahgunaan

narkoba

memberikan

banyak

dampak negatif baik dari segi psikis, fisik maupun

sosial. Salah satu cara menanggulangi masalah

tersebut adalah memberikan rehabilitasi bagi para

pecandu narkoba. Sebelum rehabilitasi, mereka akan

menghadapi serangkaian tes untuk mengetahui jenis

narkoba yang disalahgunakan. Tes yang sering

digunakan adalah tes urin, darah, dan lain-lain.

Namun kendala waktu, biaya serta fasilitas yang

minim di beberapa daerah membuat pendeteksian

seseorang menderita narkoba menjadi terhambat.

Berdasarkan hal di atas, dibangunlah suatu

sistem

pendeteksi

penyalahgunaan

narkoba

menggunakan algoritma jaringan syaraf tiruan (JST)

backpropagation

yang dibentuk terdiri atas lapisan masukan yang

merupakan representasi dari gejala efek samping

penyalahgunaan

narkoba,

lapisan

tersembunyi

epoch

dari output yang diharapkan yaitu Narkotika,

Psikotropika, dan Zat Adiktif Lain.

Setelah berbagai macam kombinasi pelatihan

(pembelajaran) dilakukan, didapat hasil yang paling

baik adalah dengan menggunakan kombinasi

learning rate

Root Mean Square

Error

pengujian sistem, didapat akurasi keberhasilan

memprediksi jenis narkoba yang disalahgunakan

sebesar 70%.

Kata Kunci

Backpropagation

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Narkoba, merupakan singkatan dari NARkotika,

PsiKOtropika dan Bahan Adiktif Lain. Dengan kata

lain Narkotika adalah obat, bahan atau zat yang

jika masuk tubuh berpengaruh pada fungsi tubuh,

terutama otak. Penggunaan dan peredaran narkotika

dan psikotropika diawasi secara ketat dengan

Undang-Undang, yaitu Undang-Undang Nomor 35

tahun 2009 tentang Narkotika. Kepemilikan,

penggunaan

serta

peredaran

narkotika

dan

psikotropika

secara

tidak

sah

merupakan

pelanggaran hukum [1].

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat

hingga tahun 2013 jumlah penyalahguna narkoba di

Indonesia mencapai empat juta. Sekitar 70 persen

dari jumlah tersebut adalah pengguna dari golongan

pekerja, sementara 22 persen merupakan kelompok

pelajar atau mahasiswa, serta delapan persen

pengangguran dan lainnya. Pemerintah dan seluruh

lapisan masyarakat bersama-sama melakukan upaya

pencegahan

penyalahgunaan

narkoba

serta

pemberantasan peredarannya. Salah satu upaya

tersebut adalah membangun fasilitas rehabilitasi atau

terapi medis bagi para penyalahguna narkoba.

Sebelum

rehabilitasi,

para

penyalahguna

menghadapi serangkaian tes untuk mengetahui jenis

narkoba apa yang disalahgunakan. Tes yang sering

digunakan meliputi tes biologis seperti mendeteksi

melalui urin, darah, rambut, keringat dan lain-lain.

Namun kendala waktu, biaya serta fasilitas yang

minim di beberapa daerah membuat pendeteksian

seseorang menderita narkoba menjadi terhambat.

Jaringan syaraf tiruan, merupakan salah satu

Artificial Intellegence

kecerdasan buatan, adalah salah satu representasi

buatan dari otak manusia yang mencoba untuk

mensimulasikan proses pembelajaran pada otak

manusia. Istilah buatan ini diimplementasikan

dengan menggunakan program komputer yang

mampu menyelesaikan sejumlah proses perhitungan

selama proses pembelajaran. Jaringan saraf tiruan

mampu melakukan pengenalan kegiatan berbasis

data masa lalu. Data masa lalu akan dipelajari oleh

jaringan

saraf

tiruan

sehingga

mempunyai